Bismillah
senin pagi ada seorang teman yang nanya tentang penarikan kesimpulan
yah seperti silogisme, modus ponens, modus tollens yang aku udah lupa
yang akhirnya nyampai ke pertanyaan
Gimana sih ciri2 hadist yang sahih itu?
wah, wah aku gak tau mo bilang apa..
iya sih mungkin benar katanya aku terlalu bodoh jadi harus mengulang kembali pelajaran logika
terima kasih teman yang paling pinter( karena sering menggunakan kata bodoh untuk orang lain)
Trus pertanyaannya lari ke masalah perawi dan isi hadistnya
dan aku ngomong bahwa para ulama telah menetapkan mana yang sahih dan mana yang dhaif,
soalnya untuk saat ini kepada makhluk yang mana lagi yang bisa kita dapatkan ilmu agama yang benar karena ketidaktahuan(keawaman) kita terhadap makna AlQuran selain kepada ulama
kalau memang kesahihan suatu hadist oleh seorang perawi dipertanyakan, mungkin saja sudah sejak dulu islam terombang-ambing dan terpecah belah karena perbedaan pendapat tentang hadist sahih itu. Bukannya udah ditetapkan (ini menurut para ulama lho) bahwa hadist2 dari muslim dan bukhari itu sahih!
andaikan tidak sahih pasti para ulama sudah lebih dahulu bergerak lebih cepat daripada kita orang yang masih awam islam
terus jika tentang saya yang sering menyerap tentang perkataan dari ulama besar bukan berarti saya tidak merenunginya. Namun, jika saya telah memikirkan hal tersebut adalah benar maka saya akan menjalankannya dengan terlebih dahulu mendiskusikannya dengan orang yang saya anggap pantas memberikan tanggapan dan telah melaksanakan islam dengan lebih baik. Jika responnya juga bagus maka semakin menguatkan saya. Jika tidak maka harus didiskusikan dengan orang lain yang tentunya juga lebih dalam hal agama dan akhlak dari saya.
[...] ini menanggapi tulisan rekan saya, kang Andi Hendra yang di sini. Emang agak susah dibaca, wong tanda bacanya aja ngaco di sana. Dibilangin juga, dia bilang blog [...]
Tuh, udah tak kirim trekbek…
Kunjungi sana!